Computer Based Information System (CBIS)

Standard

I. Elemen-Elemen Sistem

  1. Komponen-Komponen CBIS
    Menurut Goel (2010) komponen CBIS terdiri dari :

    • Hardware
      Perangkat komputer seperti keyboard, monitor, processor, dan printer, digunakan untuk menampilkan input, proses, dan aktivitas output.
    • Software
      Program komputer yang memerintahkan operasi komputer.
    • Database
      Sekumpulan koleksi data yang terdiri dari dua atau lebih data yang saling berhubungan.
    • People
      Adalah yang bekerja dengan computer based information system. Orang adalah elemen yang paling penting dalam computer based information system.
    • Procedures
      Strategi, kebijakan, metode, dan aturan untuk menggunakan computer based information system.
    • Telecommunication, network, and internet
      Telecommunication dan network digunakan untuk menghubungkan komputer dan perangkat komputer di gedung, kota, daerah, atau sebrang dunia untuk memungkinkan terjadinya komunikasi elektronik. Internet adalah jaringan komputer terbesar di dunia, yang merupakan interkoneksi jaringan.
  2. Contoh
    Contoh dari sistem informasi psikologi adalah software CP3 yang didalamnya berisikan eksperimen Attention, yaitu eksperimen yang bertujuan untuk melihat proses selektivitas informasi pada kognitif seseorang.

    • Input, berupa stimulus yang diberikan pada masing masing tes yang dilakukan seperti attention
    • Proses, berupa pengolaan informasi yang dilakukan ketika mendapatkan stimulus
    • Output, berupa respon yang diberikan setelah pengolaan informasi
    • Tujuan, untuk mengetahui tingkat kognitif dan persepsi seseorang.

II. Sistem Informasi Berbasis Komputer (CBIS)

  1. Definisi CBIS
    Istilah Computer Based Information System (CBIS) sebenarnya mengacu pada pada system informasi yang dikembangkan berbasis teknologi komputer. atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut juga Sistem Informasi Berbasis Komputer merupakan sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dipergunakan untuk suatu alat bantu pengambilan keputusan. Istilah-istilah yang terkait dengan CBIS adalah data, informasi, sistem, sistem informasi dan basis komputer.
    Sistem Informasi Berbasis Komputer atau Computer Based Information System (CBIS) merupakan sistem pengolahan suatu data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dapat dipergunakan sebagai alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan, koordinasi dan kendali serta visualisasi dan analisis. Beberapa istilah yang terkait dengan CBIS antara lain adalah data, informasi, sistem, sistem informasi dan basis komputer. Berikut penjelasan masing-masing istilah tersebut.
  2. Sejarah CBIS
    Selama tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an, perusahaan raksasa multinasional banyak menyelesaikan pembangunan sistem informasi global mereka (GIS/ Global Information System), tetapi masih terdapat beberapa hal lain yang masih harus diselesaikan dalam rangka menyempurnakan sistem pengelolaan informasi berbasis komputer yang mendunia ini. Pada tahun 2000-an, kurang lebih 2070 perusahaan multinasional akan didorong untuk memperbaiki aplikasi sistem informasi dan bentukan arsitektur sistem ini. Sistem yang mulanya dirancang untuk mendukung operasi yang tersentralisasi ataupun tidak tersentralisasi akan ditingkatkan untuk memampukan perusahaan induk dan cabangnya beroperasi sebagai sebuah koordinat suatu sistem yang terintegrasi. Adapun hal yan perlu ditingkatkan dan diintegrasikan secara utuh dalam pematangan sistem informasi dunia adalah peranan sistem informasi berbasis komputer (Computer Based Information System/ CBIS).
  3. Evolusi CBIS
    • Sistem Informasi Akutansi (SIA)
      Sistem Informasi akuntansi adalah kumpulan dari sumber daya, baik manusia, peralatan, dan teknologi yang dirancang dan digunakan untuk mengubah data-data ekonomi ke dalam informasi yang bermanfaat bagi penggunanya. (Wahyuno & Pujiatmoko, 2008).
    • Sistem Informasi Manajemen (SIM)
      Sistem informasi manajemen penyediaan informasi mengenai kinerja perusahaan. Sim secara khusus menghasilkan laporan yang sifatnya teteap dan rutin berdasarkan data yang diperoleh dan dirangkum dari sistem pemprosesan transaksi. Sim hanya menyoroti kondisi-kondisi yang khusus dan luar biasa, seperti kuota penjualan untuk suatu wilayah tertentu jatuh dibawah tingkat yang diperkirakan, atau karyawan telah melebihi batas pengeluaran tunjuangan perawatannya. (Laudon, 2008)
      Sistem informasi manajemen secara umum dapat dikatakan sebagai sebuah sistem manusia dan mesin yang terintegrasi dalam menyediakan informasi gua mendukung fungsi informasi manajemen dan penentuan alternatif tindakan dalam sebuah organisasi sistem tersebut. Dalam operasinya sitem informasi manajemen menggunakan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), prosedur, model manajemen, dan keputusan serta terminal data.
      Menurut Scoott (dalam Yulia, 2014) Sistem informasi manajemen adalah serangkaian subsistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu tertranformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produkivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manager atas dasar kriteria mutu yang ditetapkan.
    • Sistem Pendukung Keputusan (SPK)
      Sistem pendukung keputusan mendukung analisis masalah semi terstruktur dan tidak terstruktur. Sistem pendukung keputusan dimasa paling awalnya sangatlah digerakan oleh mode, menggunakan jenis model untuk menjelaskan analisis “bagaimana jika” dan analisis lainnya (Laudon, 2008).
      Menurut Bonczek (dalam Nofriansyah, 2012) sistem informasi pendukung keputusan sebagai sistem berbasis komputer yang terdiri dari tiga komponen yang saling berinteraksi, sistem bahasa (mekanisme untuk memberikan komunikasi antara pengguna dan komponen sistem pendukung keputusan lain), sistem pengetahuan (respositori pengetahuan domain masalah yang ada pada sistem pendukung keputusan atau sebagai data atau sebagai prosedur), dan sistem pemprosesan masalah (hubungan antara dua komponen lainnya, terdiri dari satu atau lebih kapabilitas manipulasi masalah umum yang diperlukan untuk pengambilan keputusan).
    • Office Automation (OA)
      Sistem otomatisasi perkantoran merupakan penyediaan telekomnikasi untuk orang orang didalam perusahaan dan memampukan mereka untuk berkomunikasi diantara mereka sendiri dengan para penyalur, serta para pelanggan dilingkungan perusahaan. Komunikasi ini membuat kelompok tanggung jawab berkualitas. Pada saat DSS berkembang, perhatian juga difokuskan pada aplikasi komputer yang lain yakni Office Automation (OA)/ Otomatisasi Perkantoran. OA memudahkan komunikasi dan meningkatkan produktivitas di antara para manajer dan pekerja lain melalui peralatan elektronik seperti fasilitas internet, telekomunikasi (teleconference). Otomasi perkantoran (Office Automation) Mencakup semua sistem elektronik formal dan informal yang terutama berkaitan dengan komunikasi informasi ke dan dari orang-orang di dalam maupun di luar perusahaan (siapa saja yang menggunakan OA). Kelompok pemakai OA adalah pekerja terdidik (manajer dan profesional), sekretaris, dan pegawai administrasi. Tujuan dari OA ialah mengurangi biaya administrasi, pemecahan masalah, dan pelengkap serta bukan pengganti. Beberapa contoh aplikasi OA yaitu pengolahan kata, E-mail, voice mail, kalender elektronik, konferensi audio/video, konferensi komputer, PAX, imaging, dan dekstop publising.
    • Sistem Pakar (Expert System)
      Sistem pakar (Expert System) adalah sebuah sistem informasi yang memiliki intelegensia buatan (Artificial Intelegent) yang menyerupai intelegensia manusia. Sistem pakar mirip dengan DSS yaitu bertujuan menyediakan dukungan pemecahan masalah tingkat tinggi untuk pemakai. Perbedaan ES dan DSS adalah kemampuan ES untuk menjelaskan alur penalarannya dalam mencapai suatu pemecahan tertentu. Sangat sering terjadi penjelasan cara pemecahan masalah ternyata lebih berharga dari pemecahannya itu sendiri.
      Sistem pakar dinamakan sebagai konsultan, dan kegiatannya dinamakan konsultasi. Sistem ini dapat menampilkan lebih cepat kebutuhan basis data atau penggunaan di bidang lainnya dan lebih konsisten dibandingkan manusianya sendiri serta perusahaan yang menggunakan sistem ahli disekat dari hilangnya pengetahuan yang terjadi pada saat pegawai pensiun dan dipindahkan.

Sumber:

Amsyah, Z. (1977), Manajemen sistem informasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Laudon (2008). Sistem informasi manajemen, edisi 10. Jakarta: Salemba 4

Goel, A. (2010). Computer fundamentals. India : Pearson

Wahyono, T., & Pujiatmoko, L. (2008). Pengembangan aplikasi akuntansi berbasis microsoft visual basic.net. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Laudon, K.C & Laudon, J.P. (2008). Sistem informasi manajemen mengelola perusahaan digital. Jakarta: Salemba.

Raymond, J.M. (1995). Sistem informasi manajemen berbasis komputer. Jakarta : PT.Ikrar Mandiri Abadi

Nofriansyah, D. (2012). Konsep data mining VS sistem pendukung keputusan. Jakarta: Deepublish

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

Standard

PENGERTIAN SISTEM, INFORMASI DAN PSIKOLOGI

1. Pengertian Sistem

Menurut Fatta (2007), sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur atau variabel-variabel yang saling terorganisasi, saling berinteraksi, dan saling bergantung sama lain.

Menurut Eriyanto (2004), sistem adalah suatu kesatuan usaha yang terdiri dari bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain yang berusaha mencapai suatu tujuan dalam suatu lingkungan kompleks.

Menurut Jogiyanto (2005), sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan , berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran yang tertentu.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, sistem adalah komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi untuk mencapai suatu tujuan.

2. Pengertian Informasi

Menurut Chr. Jimmy. L.Gaol (2008) informasi adalah segala sesuatu keterangan yang bermanfaat untuk para pengambil keputusan atau manajer dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang sudah ditetapkan sebelumnya.

Menurut Hendi Haryadi (2009) informasi dapat didefinisikan sebagai hasil pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan kejadian-kejadian yang nya

Menurut Kusrini & Andri Kaniyo (2007) informasi adalah data yang sudah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi pengguna, yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendukung sumber informasi. ta yang digunakan untuk pengambilan keputusan.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, informasi adalah sekumpulan data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang lebih berguna untuk pengambilan keputusan.

3. Pengertian Psikologi

Psikologi menurut Wade & Travis (2007), adalah disiplin ilmu yang berfokus pada perilaku & berbagai proses mental serta bagaimana perilaku & berbagai proses mental itu dipengaruhi oleh kondisi mental organisme & dari lingkungan eksternal.

Menurut Heru Basuki (2008), bahwa psikologi itu adalah ilmu pengetahuan ilmiah yang mempelajari perilaku, sebagai menifestasi dari kesadaran proses mental, aktivitas motorik, kognitif, & emosional.

Morgan (Dalam Heru basuki 2008), psikologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dan binatang serta penerapannya pada permasalahan manusia.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa psikologi itu adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku & proses mentalnya.

4. Pengertian sistem Informasi Psikologi

Menurut Chr. Jimmy L. Gaol (2008) sistem informasi psikologi bertujuan mendapatkan pemahaman bagaimana manusia pembuat keputusan merasa dan menggunakan informasi formal.

Sistem informasi psikologi adalah sebuah sistem yang digunakan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan psikologi yang dapat bermanfaat bagi penggunanya. Contohnya adalah pengaplikasian SIP dalam kehidupan yaitu penggunaan teknologi dalam pengambilan data tes psikologi, dalam hal ini umumnya komputer (komputerisasi alat tes psikologi).

Sumber:

  1. Andi. Gaol, C.J.L (2008). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Grasindo.
  2. Basuki, A.M.H. (2008). Psikologi Umum. Depok : Universitas Gunadarma.
  3. Carole Wade & Carol Tavris.Psikologi Edisi Kesembilan Jilid 1.2007.Jakarta: Erlangga
  4. Eriyanto. (2004). Teknik dan Aplikasi Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Bogor: Grasindo.
  5. Fatta, H.A. (2007). Analisis & Perancangan Sistem Informasi. Yogyakarta: Penerbit
  6. Gaol, C.J.L (2008). Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Grasindo.
  7. Haryadi, H. (2009). Administrasi Perkantoran. Jakarta: Visi Media.
  8. Jogiyanto. 2005. Analisis dan Desain Sistem Informasi. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  9. Kusrini & Kaniyo, A. (2007). Tuntunan Praktis Membangun Sistem Informasi Akuntansi dengan Visual Basic dan Microsoft SQL Server. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Pandu Perdana

15512631

4PA05

SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

Psikoterapi (4)

Standard

Terapi Keluarga (FAMILY THERAPY)

A. Konsep dan Prinsip Family Therapy
Terapi keluarga adalah model terapi yang mengubah pola interaksi keluarga sehingga dapat memperbaiki masalah-masalah dalam keluarga (Gurman, Kniskern & Pinsof, 1986). Terapi keluarga muncul dari observasi bahwa masalah-masalah yang ada pada terapi individual mempunyai konsekuensi dan konteks sosial. Contohnya, klien yang menunjukkan peningkatan selama menjalani terapi individual, bisa terganggu lagi setelah kembali pada keluarganya. Menurut teori awal dari psikopatologi, lingkungan keluarga dan interksi orang tua anak adalah penyebab dari perilaku maladaptive (Bateson et al,1956; Lidz&Lidz, 1949 ;Sullivan, 1953). Teori keluarga memiliki pandangan bahwa keluarga adalah fokus unit utama. Keluarga inti secara tradisional dipandang sebagai sekelompok orang yang dihubungkan oleh ikatan darah dan ikatan hukum. Fungsi keluarga adalah sebagai tempat saling bertukar antara anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional setiap individu. Untuk menjaga struktur mereka, sistem keluarga memiliki aturan, prinsip-prinsip yang memungkinkan mereka untuk melakukan tugas-tugas hidup sehari-hari. Beberapa peraturan yang dinegosiasikan secara terbuka dan terang-terangan, sedangkan yang lain terucap dan rahasia. Keluarga sehat memiliki aturan yang konsisten, jelas, danditegakkan dari waktu ke waktu tetapi dapat disesuaikan dengan perubahan perkembangan kebutuhan keluarga. Setiap anggota keluarga memiliki peranan yang jelas terkait dengan posisi sosial mereka.
Terapi keluarga sering kali dimulai dengan fokus pada satu anggota keluarga yang mempunyai masalah. Khususnya, klien yang diidentifikasi adalah remaja laki-laki yang sulit diatur oleh orang tuanya atau gadis remaja yang mempunyai masalah makan. Sesegara mungkin, terapis akan berusaha untuk mengidentifikasi masalah keluarga atau komunikasi keluarga yang salah, untuk mendorong semua anggota keluarga mengintrospeksi diri menyangkut masalah yang muncul. Tujuan umum terapi keluarga adalah meningkatkan komunikasi karena keluarga bermasalah sering percaya pada pemahaman tentang arti penting dari komunikasi (Patterson, 1982).
Terapi keluarga mengajarkan penyelesaian tanpa paksaan, mengajarkan orang tua untuk menetapkan kedisiplinan pada anak-anak mereka, mendorong tiap anggota keluarga untuk berkomunikasi secara jelas satu sama lain, mendidik anggota keluarga dalam prinsip perubahan perilaku, tidak menekankan kesalahan pada satu anggota akan tetapi membantu anggota keluarga apakah hyarapan terhadap anggota yang lain masuk akal.

B. Unsur-Unsur Family Therapy
Terapi keluarga didasarkan pada teori system (Van Bertalanffy, 1968) yang terdiri dari 3 prinsip. Pertama adalah kausalitas sirkular, artinya peristiwa berhubungan dan saling bergantung bukan ditentukan dalam sebab satu arah–efek perhubungan. Jadi, tidak ada anggota keluarga yang menjadi penyebab masalah lain; perilaku tiap anggota tergantung pada perbedaan tingkat antara satu dengan yang lainnya. Prinsip kedua, ekologi, mengatakan bahwa system hanya dapat dimengerti sebagai pola integrasi, tidak sebagai kumpulan dari bagian komponen. Dalam system keluarga, perubahan perilaku salah satu anggota akan mempengaruhi yang lain. Prinsip ketiga adalah subjektivitas yang artinya tidak ada pandangan yang objektif terhadap suatu masalah, tiap anggota keluarga mempunyai persepsi sendiri dari masalah keluarga.
Terapi keluarga tidak bisa digunakan bila tidak mungkin untuk mempertahankan atau memperbaiki hubungan kerja antar anggota kunci keluarga. Tanpa adanya ksadaran akan pentingnya menyelesaikan masalah pada setiap anggota inti keluarga, maka terapi keluarga sulit dilaksanakan. Bahkan meskipun seluruh anggota keluarga datang atau mau terlibat, namun beberapa system dalam keluarga akan sangat rentan untuk terlibat dalam terapi keluarga.

C. Teknik Family Therapy

  1. Terapi Keluarga Berstruktur
    Terapi keluarga berstruktur adalah suatu kerangka teori tehnik pendekatan individu dalam konteks sosialnya. Tujuannya adalah mengubah organisasi keluarga. Terapi keluarga berstruktur memepergunakan proses balik antara lingkungan dan orang yang terlibat perubahan-perubahan yang ditimbulkan oleh seseorang terhadap sekitarnya dan cara-cara dimana umpan balik terhadap perubahan perubahan tadi mempengaruhi tindakan selanjutnya. Terapi keluarga mempergunakan tehnik-tehnik dan mengubah konteks orang-orang terdekat sedemikian rupa sehingga posisi mereka berubah dengan mengubah hubungan antara seseorang dengan konteks yang akrab tempat dia berfungsi, kita mengubah pengalaman subyektifnya.
  2. Terapi Individu / Perorangan
    Melihat individu sebagai suatu tempat yang patologis dan mengumpulkan data yang di peroleh dari atau tentang individu tadi.
    Pada terapi perorangan dilakukan pengungkapan pikiran dan perasaan tentang kehidupannya sekarang, dan orang – orang didalamnya. Riwayatnya perkembangan konfliknya dengan orang tua dan saudara-saudaranya.
    Bila akan dirujuk ke dalam terapi keluarga maka terapist akan mengekporasi interaksi individu dalam konteks hidup yang berarti.
    Dalam wawancara keluarga terapist mengamati hubungan individu dengan anggota keluarga lainnya dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga.

Pendekatan Terapi Keluarga

  1. Network therapy
    Secara logika, terapi keluarga adalah perluasan dari simultan dengan semua yang tersedia dari system kekeluargaan, teman, dan tetangga serta siapa saja yang berkepentingan untuk memupuk rasa kekeluargaan   ( Speck and Attneave, 1971).
  1. Multiple-impact therapy
    Multiple-impact therapy biasanya dapat membantu remaja pada saat mengalami krisis situasi ( MacGregor et al.,1964 ). Tim kesehatan mental bekerja dengan keluarga yang beramasalah selama dua hari. Setelah dibei pengarahan, anggota tim akan dipasangkan dengan salah satua atau lebih anggota keluarga dengan beberapa varisasi kombinasi. Mungkin ibu dan putrinya dapat ditangani oleh satu orang terapist, sedangkan ayah ditangani secara individual sepert halnya anak laki-lakinya. Bila dibutuhkan regroup diperbolehkan untuk mengeksplorasi maslah keluarga yang rumit. Tujuan dari terapi adalah untuk reorganisasi sistem keluarga sehingga dapat terhindar dari malfungsi. Diharapkan sistem keluarga menjadi lebih terbuka dan adaptif, untuk itu terus dilakukan followup.
  1. Multiple family and multiple couple group therapy
    Masa kegiatan kelompok keluarga selanjutnya menimbulkan suatu keadaan yang biasa untuk membantu masalah emosional ( e.g., Laqueur, 1972 ). Model ini, partisipan tidak dapat memeriksa satu persatu dengan mentransaksi keluarga kecil mereka tetapi mengalami simultan mengenai masalah ekspresi oleh keluarga dan pasangan suami istri. Dengan demikian, terapi kelompok ini dapat menunjang pemikiran pada pasangan suami istri.

Referensi :

Sundberg, D, Winebarger, A, Taplin, J. 2007. Psikologi Klinis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Wiramihardja, S.A. 2004. Pengantar Psikologi Klinis (Edisi Revisi). Bandung : Refika Aditama

Becvar, Dorothy S. Becvar, Raphael J. 1976.Family Teraphy ( A systematic Intregation). Adivision of Simon & Schester, Inc. Needham Height; Massachusetts.

Korchin, Sheldon J. 1976.Modern Clinical Psychology. Basic Books, Inc. Publishers: New York.

Nietzel, Michael. 1998. Introduction To Clinical Psychology. Simon & Schuster / Aviacom Company. Upper Saddle River: New Jersey.

Massachusetts, A Simon & Scuster Company. Imbercoopersmith, Evan. 1985. Teaching Trainee To Think In Triad. Journal of Marital and Family Therapy, Vol.11, No.1,61-66.

Psikoterapi (3.E)

Standard

Pendekatan Psikoanalitik

A. Konsep utama

  1. Struktur kepribadian
    Terdapat tiga system dari struktur kepribadian yaitu; id, ego, superego. Ketiganya adalah nama bagi proses-proses psikologis dan jangan dipikirkan sebagai agen-agen yang secara terpisah mengoperasikan kepribadian; merupakan fungsi-fungsi kepribadian sebagai keseluruhan ketimbang sebagai tiga bagian terasing satu sama lain. Id adalah komponen biologis, ego adalah komponen psikiologis, sedangkan superego merupakan komoponen sosial.
  2. Pandangan tentang sifat manusia
    Pandangan Freudian tentang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministic, mekanistik, reduksionistik. Menurut Freud, manusia di determinasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis serta naluriah, peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima tahun pertama dari kehidupan.
  3. Kesadaran dan ketidaksadaran
    Ketidaksadaran tidak bisa dipelajari secara langsung; ia bisa dipelajari dari tingkah laku. Ketidaksadaran itu menyimpan pengalaman-pengalaman, ingatan-ingatan, dan bahgan-bahan yang direpresi. Bagi freud, kesadaran merupakan bagian terkecil dari keseluruhan jiwa, seperti gunung es yang mengapung yang bagian terbesarnya berada dibawah permukaan air, bagian jiwa yang terbesar berada dipermukaan kesadaran.
  4. Kecemasan
    Kecemasan adalah suatu keadaan tegang yang memotivasi kita untuk berbuat sesuatu. Fungsinya adalah memperingatkan adanya ancaman bahaya – yakni sinyal bagi ego yang akan terus meningkat jika tindakan-tindakan yang layak umtuk mengatasi ancaman bahaya tersebut itu tidak diambil. Ada tiga macam kecemasan; kecemasan realistik, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral.
  5. Mekanisme-mekanisme pertahanan ego
    Mekanisme pertahanan ego membantu individu mengatasi kecemasan dan mencegah terlukanya ego. Mekanisme-mekanisme pertahanan yang digunakan oleh individu bergantung pada taraf perkembangan dan derajat kecemasan yang dialaminya. Makanisme-mekanisme pertahanan sama-sama memiliki dua ciri; menyangkal atau mendistorsi kenyataan, dan beroperasi pada saraf tak sadar. Brikut ini adalahbeberapa bentuk mekanisme pertahanan diri yaitu; penyangkalan, proyeksi, fiksasi, regresi, rasionalisasi, sublimasi, displacement, represi, formasi reaksi.
  6. Perkembangan kepribadian
    Perkembangan kepribadian terdiri dari; pentingnya perkembangan awal menurut freud tiga area perkembangan personal dan social (cinta dan rasa percaya, penanganan perasaan-perasaan negative, dan pengembangan penerimaan yang positif terhadap seksualitas) itu berlandaskan lima tahun pertama dari kehidupan. Tahun pertama kehidupan (fase oral) dari lahir sampai akhir usia satu tahun seorang bayi menjalani fase oral dengan menghisap buah dada ibu dan memuaskan segala kebutuhannya karena mulut dan bibir merupakan zone-zone orogeny yang peka selama fase oral ini. Usia satu sampai tiga tahun (fase anal) bermula dari tahun kedua dan berlanjut hingga tahun ketiga fase anal menjadi memiliki arti penting bagi pembentukkan kepribadian karena akan merasakan tuntutan, frustasi, rasa memiliki kekuatan, kemandirian, serta rasa otonom. Usia tiga sampai lima tahun (fase falik) ini adalah fase ketika kesanggupan- kesanggupan untuk berjalan, berbicara, berfikir dan mengendalikan otot berkembang pesat, selama itu juga anak perlu belajar menerima perasaan-perasaan seksualnya sebagai hal yang alamiah dan belajar memandang tubuhnya sendiri secara sehat.

B. Unsur-Unsur Pendekatan Psikoanalitik

  1. Tujuan Terapi
    Tujuan terapi psikoanalitik adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan membuatsadar hal yang tidak disadari di dalam diri klien. Proses trapeutik difokuskan pada upaya mengingat kembali pengalaman-pengalaman di masa lampau.
  2. Fungsi dan Perdan Terapis
    Karakteristik psikoanalisis adalah, terapis membiarkan dirinya hanya berbagi sedikit perasaan dan pengalamannya, sehingga klien dapat memproyeksikan dirinya kepada terapis.Terapis terlebih dahulu harus membangun hubungan yang baik dengan klien, kemudian mendengarkan dan menafsirkan. terpais memberikan perhatian terhadap penolakan-penolakan yang dialakukan klien. sementara sebagian besar yang dilakukan klien berbicara, terapis bertugas untuk  mendengarkan dan berusaha mengetahui kapan harus membuat penafsiaran-penafsirang yang tepat untuk proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari.
    Fungsi utama terapis adalah mengajarkan proses-proses kepada klien, sehingga klien memperoleh pemahaman terhadap masalah-masalahnya sendiri, mengalami peningkatan kesadaran atas cara-cara untuk berubah dan memperoleh kendali yang lebih rasional atas kehidupannya sendiri.

C. Teknik-Teknik Terapi

  1. Asosiasi bebas
    Analisis meminta kepada klien agar membersihkan pikirannya dari pemikiran-pemikiran dan renungan-renungan sehari-hari serta sebisa mungkin mngatakan apa saja yang melintas dipikirannya betapapun menyakitkannya, tolol, remeh, tidak logis, dan tidak relevan kedengarannya. Cara yang khas ialah klien berbaring di atas balai-balai sementara analisis duduk dibelkangnya sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat asosiasi-asosiasinya mengalir bebas.
  2. Penafsiran
    Suatu prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-aosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-tranferensi. Prosedurnya terdiri atas tindakan-tindakan anlisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri.fungsi-penafsiran-penafsiran dalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut.
  3. Analisis mimpi
    Sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman dan beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Mimpi-mimpi mempunyai dua taraf isi; isi laten (terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tak disadari) dan isi manifest (impian yang sebagaimana tampil pads pada si pemimpi).
  4. Analisi dan penafsiran resistensi
    Sebuah konsep fundamental dalam praktek terapi psikoanalitik, adalah suatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bias dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan-perasaannya yang di represi itu.
  5. Analisis dan penafsiran transferensi
    Teknik ini adalah teknik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien umtuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Ia memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dan fiksasi-fiksasi dan deprivasi-deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh masa lampau terhadap kehidupan sekarang.

Referensi :

Corey, G. (1999). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT. Refika Aditama.

Psikoterapi (3.D)

Standard

Terapi Humanistik-Eksistensial

Terapi Humanistik Eksistensial berpijak pada premis bahwa manusia tidak bisa melarikan diri dari kebebasan dan bahwa kebebasan dan tanggung jawab saling berkaitan.

A. Konsep-konsep utama :

  1. Kesadaran diri
    Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu.
  2. Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
    Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing).
  3. Penciptaan makna
    Manusia itu unik, dalam arti bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan

B. Unsur-Unsur Eksistensial-Humanistik

  1. Tujuan Eksistensial-Humanistik
    • Agar klien mengalami keberadaanya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi.
    • Meluaskan kesadaran diri klien dan meningkatkan kesanggupan pilihannya.
    • Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri.
  2. Peran dan Fungsi Konselor
    Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :

    • Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
    • Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
    • Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
    • Berorientasi pada pertumbuhan.
    • Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi.
    • Mengakui bahwa putusan dan pilihan akhir terletak ditangan klien.
    • Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknyatentang manusia secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
    • Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk Mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
    • Bekerja ke arah mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

C. Teknik terapi

Tidak seperti kebanyakan pendekatan terapi, pendekatan eksistensial-humanistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Metode-metode yang berasal dari terapi gestalt dan analisis transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan eksistensial humanistik.

Dalam konseling humanistik terdapat  teknik-teknik konseling , yang mana sebelum mengetahui teknik-teknik konseling tersebut terdapat beberapa prinsip kerja teknik humanistik antara lain :

  • Membina hubungan baik (good rapport).
  • Membuat klien bisa menerima dirinya dengan segala potensi dan keterbatasannya.
  • Merangsang kepekaan emosi klien.
  • Membuat klien bisa mencari solusi permasalahannya sendiri.
  • Mengembangkan potensi dan emosi positif klien.
  • Membuat klien menjadi adequate.

Referensi :

Corey, G. (1999). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT. Refika Aditama.

Untuk menuju materi selanjtunya klik disini

Psikoterapi (3.C)

Standard

Pendekatan Analisa Transaksional

Analisa Transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam terapi kelompok.

A. Konsep-konsep utama

  1. Pandangan tentang sifat manusia
    AT berakar pada suatu filsafat yang antideterministik serta menekankan bahwa manusia sanggup melampaui pengondisian dan pemrograman awal. Disamping itu, AT berpijak pada asumsi-asumsi bahwa orang-orang sanggup memahami putusan-putusan masa lampaunya dan bahwa orang-orang mampu memilih untuk memutuskan ulang.
  2. Perwakilan-perwakilan Ego
    AT adalah suatu sistem terapi yang berlandaskan teori kepribadian yang menggunakan tiga pola tingkah laku atau perwakilan ego yang terpisah: Orang Tua, Orang Dewasa, dan Anak.
    Ego Orang Tua adalah bagian kepribadian yang merupakan introyeksi dari orang tua atau dari substitut orang tua. Jika ego Orang Tua itu dialami kembali oleh kita, maka apa yang dibayangkan oleh kita adalah perasaan-perasaan orang tua kita dalam suatu situasi atau kita merasa dan bertindak terhadap orang lain dengan cara yang sama dengan perasaan dan tindakan orang tua kita terhadap diri kita.
    Ego Orang Dewasa adalah pengolah data dan informasi. Ia adalah bagian objektif dan kepribadian, juga menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia tidak emosional dan tidak menghakimi, tetapi menangani fakta-fakta dan kenyataan eksternal.
    Ego Anak berisi perasaan-perasaan, dorongan-dorongan, dan tindakan-tindakan spontan. “anak” yang ada dalam diri kita bisa berupa “anak alamiah”, “profesor kecil”, atau berupa. “anak yang disesuaikan”. Anak alamiah adalah anak yang implusif, tak terlatih, spontan, dan ekspresif. Profesor kecil adalah kearifan yang asli dari seorang anak, ia manipulatif dan kreatif. Anak yang disesuaikan menunjukan suatu modifikasi dari anak alamiah, modifikasi yang dihasilkan oleh pengalaman-pengalaman ttraumatik, tuntunan-tuntunan, latihan, dan ketetapan-ketetapan tentang bagaimana caranya memperoleh belaian.
  3. Skenario-skenario kehidupan dan posisi-posisi psikologi dasar
    Skenario-skenario kehidupan adalah ajaran-ajaran orang tua yang kita pelajari dan putusan-putusan awal yang dibuat oleh kita sbagai anak, yang selanjutnya dibawa oleh kita sebagai orang dewasa. Pesan-pesan verbal dan nonverbal orang tua mengomunikasikan bagaimana mereka melihat kita dan bagaimana mereka merasakan diri kita.
  4. kebutuhan manusia akan belaian
    Orang-orang ingin dibelai, baik secara fisik maupun secara emosional. Manusia (juga hewan) membutuhkan belaian serta, jika kebutuhan akan belaian itu tidak terpenuhi, cukup bukti yang menunjukan bahwa mereka tidak berkembang secara sehat, baik emosional maupun fisikal. Oleh karena itu, AT memberukan perhatian pada bagaimana orang-orang menyusun waktunya dalam usaha memperoleh belaian. Putusan-putusan yang dibuat oleh seseorang menentukan macam belaian apa yang ingin diperolehnya.
  5. Permainan-permainan yang kita mainkan
    Para pendukung AT mendorong orang-orang untuk mengenali dan memahami perwakilan-perwakilan ego-nya. Alasannya adalah dengan mengakui ketiga perwakilan ego itu, orang-orang bisa membebaskan diri dari putusan-putusan anak yang telah usang dan dari pesan-pesan orang tua yang irasional yang menyulitkan kehidupan mereka.

B. Unsur-Unsur Analisa Transaksional

  1. Tujuan Analisa Transaksional
    • Membantu klien dalam membuat putusan-putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya.
    • Pencapaian otonomi yang diwujudkan oleh penemuan kembali tiga karakteristik yaitu kesadaran, spontanitas, dan keakraban.
  2. Peran dan Fungsi Konselor
    Peran konselor adalah sebagai guru, pelatih dan penyelamat dengan terlibat secara penuh dengan konseli. Konselor berperan sebagai guru yang menjelaskan teknik-teknik seperti analisis struktural, analisis transaksi, naskah hidup, dan analisis game. Konselor juga membantu konseli menemukan kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan di masa lalu dan mengembangkan strategi untuk mengatasinya.
    Konselor dan konseli bekerja sebagai patner dalam konseling, konselor membantu konseli menemukan kekuatan internalnya untuk berubah dengan membuat keputusan yang sesuai.

C. Teknik Transaksional

Prosedur pada AT dikombinasikan dengan terapi Gestalt, seperti yang dikemukakan oleh James dan Jongeward (1971) dalam Corey (1988) dia menggabungkan konsep dan prosedur AT dengan eksperimen Gestalt, dengan kombinasi tersebut hasil yang diperoleh dapat lebih efektif untuk mencapai kesadaran diri dan otonom. Sedangkan teknik-teknik yang dapat dipilih dan diterapkan dalam AT, yaitu;

Analisis struktural, para klien akan belajar bagaimana mengenali ketiga perwakilan ego-nya, ini dapat membantu klien untuk mengubah pola-pola yang dirasakan dapat menghambat dan membantu klien untuk menemukan perwakilan ego yang dianggap sebagai landasan tingkah lakunya, sehingga dapat melihat pilihan-pilihan.
Metode-metode didaktik, AT menekankan pada domain kognitif, prosedur belajar-mengajar menjadi prosedur dasar dalam terapi ini.
Analisis transaksional, adalah penjabaran dari yang dilakukan orang-orang terhadap satu sama lain, sesuatu yang terjadi diantara orang-orang melibatkan suatu transaksi diantara perwakilan ego mereka, dimana saat pesan disampaikan diharapkan ada respon. Ada tiga tipe transaksi yaitu; komplementer, menyilang, dan terselubung.

Referensi :

Corey, G. (1999). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT. Refika Aditama.

Untuk menuju materi selanjutnya klik disini

Psikoterapi (3.B)

Standard

Logoterapi

A. Konsep Utama

Logoterapi ialah terapi yang mengusahakan agar kehidupan senantiasa berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan agama. Menurut Frankl (2004) logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainya erat hubunganya dan saling menunjang yaitu:

  • Kebebasan berkehendak ( Freedom of Will )
    Dalam pandangan Logoterapi manusia adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggungjawab. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari (freedom from) kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosiokultural tetapi lebih kepada kebebasan untuk mengambil sikap ( freedom to take a stand ) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan manusia yang lain adalah kemampuan untuk mengambil jarak ( to detach ) terhadap kondisi di luar dirinya, bahkan manusia juga mempunyai kemampuan-kemampuan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri ( self detachment ). Kemampuan-kemampuan inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “ the self deteming being” yang berarti manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
  • Kehendak Hidup Bermakna ( The Will to Meaning )
    Menurut Frankl, motivasi hidup manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda denga psikoanalisa yang memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi ( Koeswara, 1992 ) bahwa kesenagan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl bersifat menarik ( to pull ) dan menawari  ( to offer ) bukannya mendorong ( to push ). Karena sifatnya menarik itu maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi individu yang bermakna dengan  berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.
  • Makna Hidup ( The Meaning Of  Life )
    Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting, benar  dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang ( Bastaman, 1996 ). Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan hidup. Makna hidup bisa  berbeda  antara manusia satu dengan yang lainya dan berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya ( Frankl, 2004)

B. Unsur-Unsur Terapi

  1. Tujuan Logoterapi
    Agar dalam masalah yang dihadapi klien dia bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta. Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah tersebut.
  2. Fungsi dan Peran Terapis
    • Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah
    • Mengendalikan filsafat pribadi
    • Terapis bukan guru atau pengkhotbah
    • Memberi makna lagi pada hidup
    • Memberi makna lagi pada penderitaan
    • Menekankan makna kerja
    • Menekankan makna cinta

C. Teknik-Teknik Logoterapi

Victor Frankl dikenal sebagai terapis yang memiliki pendekatan klinis yang detail. Diantara teknik-teknik tersebut adalah yang dikenal dengan intensi paradoksal, yang mampu menyelesaikan lingkaran neurotis yang disebabkan kecemasan anti sipatori dan hiper-intensi. Intensi paradoksal adalah keinginan terhadap sesuatu yang ditakuti.

Seorang pemuda yang selalu gugup ketika bergaul dengan banyak disuruh Frankl untuk menginginkan kegugupan itu. Contoh lain adalah masalah tidur. Menurut Frankl, kalau anda menderita insomnia, anda seharusnya tidak mencoba berbaring ditempat tidur, memejamkan mata, mengosongkan pikiran dan sebagainya. Anda justru harus berusaha terjaga selama mungkin. Setelah itu baru anda akan merasakan adanya kekuatan yang mendorong anda untuk melangkah ke kasur.

Teknik terapi Frankl yang kedua adalah de-refleksi. Frankl percaya bahwa sebagian besar persoalan kejiwaan berawal dari perhatian yang terlalu terfokus pada diri sendiri. Dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri dan mengarahkannya pada orang lain, persoalan-persoalan itu akan hilang dengan sendirinya. Misalnya, kalau mengalami masalah seksual, cobalah memuaskan pasangan anda tanpa memperdulikan kepuasan diri anda sendiri. Atau cobalah untuk tidak memuaskan siapa saja, tidak diri anda, tidak juga diri pasangan anda.

Referensi :

  • Bastaman, H.D. 2007. Logoterapi “Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
  • Frankl. Emil. 2004. On the theory and therapy of mental disorders: an introduction to logotherapy and existential analysis. Brunner-Routledge 270 Madison Avenue. New York.

Untuk menuju materi selanjutnya klik disini