Stereotipe Pada Orang dengan Atribut Khas (Terorisme)

Standard

Pandangan dunia terhadap kaum muslim kini sudah semakin buruk. Mereka memandang kaum muslim bukan seperti masyarakat lainnya. Mereka kini memandang kaum muslim sebagai penjahat. Mereka memandang bahwa kaum muslim adalah kelompok teroris, yang karena fanatismenya terhadap agamanya mereka bertindak agresif terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan dengannya. Orang-orang mengkalim kaum muslim seperti itu, karena mereka melihat dari beberapa peristiwa aksi-aksi terorisme dan agresi yang dilakukan oleh beberapa kelompok-kelompok muslim. Mereka telah mengeneralisasi kaum muslim seperti itu. Padahal tidak semua dari kaum muslim itu seperti apa yang mereka pikirkan.

h

Gedung WTC, 11 september 2001

Pada 11 september 2001, terjadi sebuah peristiwa besar yaitu peristiwa serangan bunuh diri dengan menabrakan dua pesawat ke menara kembar World Trade center, di New york city, Amerika serikat.
Peristiwa tersebut diduga dilakukan oleh kelompok al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden. 19 pembajak dari kelompok militan Islam, al-Qaeda, membajak empat pesawat jet penumpang dan menabrakan dua pesawat ke Menara Kembar World Trade Center di New York City. Pesawat yang ketiga mereka tabrakan ke gedung pentagon di di Arlington, Virginia. Peristiwa ini menelan korban tewas hingga sekitar 3 ribuan orang, dan ribuan orang lainnya luka-luka.

Dengan adanya serangan bunuh diri yang dilakukan oleh kelompok militan islam, yang menewaskan banyaknya korban, banyak orang-orang yang menjadi benci terhadap kaum muslim. Mereka mengklaim bahwa orang muslim itu jahat, bahkan mengklaim bahwa orang islam itu adalah teroris.

Belum lagi banyaknya aksi-aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok muslim. Seperti beberapa aksi serangan bom bunuh diri yang terjadi di Bali, Hotel Marriot, Kedubes Australia, dan lain-lain. Seperti serangkaian bom-bom bunuh diri periode 2009-2013 berikut ini :

Pada 12 Oktober 2002, terjadi serangan bom bunuh diri yang terjadi di Paddy’s Pub dan Sari Club di jalan Legian, Kuta, Bali. Atau serangan bom bunuh diri ini lebih dikenal dengan Bom Bali 1, serangan ini merupakan serangan pertama yang kemudian disusul dengan serangan Bom bali 2 yang terjadi pada 1 Oktober 2005, terjadi tiga pengeboman, satu di Kuta dan dua di Jimbaran, yaitu di Kafé Nyoman, Kafé Menega, dan Restoran R.AJA’s, Kuta Square.

Pada 17 Juli 2009, terjadi serangan bom bunuh diri yang terjadi di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton di Kuningan, Jakarta. Serangan ini diduga sebagai aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok yang dipimpin oleh Noordin M. Top.

15 April 2010: Muhammad Syarif meledakkan bom yang terpasang di tubuhnya di masjid yang terletak di dalam kompleks Mapolresta Cirebon, Jawa Barat.

Serangan ini melukai 25 orang anggota polisi yang sedang bersiap untuk menunaikan ibadah sholat Jumat,termasuk Kapolresta Cirebon AKBP Herukoco.

29 September 2010: Abu Ali meledakkan bom di sepeda yang dikendarainya di dekat seorang anggota patroli Kapolres Bekasi, AKP Heri. Pelaku dan polisi selamat.

25 September 2011: Achmad Yosepa Hayat meledakkan diri di halaman Gereja Bethel Injil, Solo, Jawa Tengah. Polisi mengatakan bahwa pelaku adalah anggota jaringan teroris Cirebon yang melakukan serangan di Mapolresta Cirebon.

3 Juni 2013: Pelaku yang belum diketahui identitasnya meledakkan diri di depan Mapolres Poso.

Dan masih banyak lagi aksi-aksi yang melibatkan kaum muslim. Kejadian-kejadian tersebut semakin membuat orang-orang non muslim berpikir bahwa semua orang muslim itu sebagai orang-orang yang kasar, anarkis, dan bahkan sebagai teroris. Mereka seakan-akan telah menilai kaum muslim secara menyeluruh dengan label tersebut. Label bahwa muslim anarkis, muslim fanatik, dan muslim teroris

Karena label tersebut sudah melekat pada kaum muslim, banyak kaum-kaum muslim yang menjadi korban rasisme tersebut. Banyak orang-orang yang menghina, mendiskiriminasi, dan bahkan mencurigai kaum muslim.

Banyak tidakan diskriminasi yang dilakukan kepada kaum muslim. Seperti ketika di bandara, banyak kejadian dimana penumpang muslim dicurigai oleh petugas-petugas yang ada di bandara. Kaum muslim selalu diperiksa dengan begitu ketatnya. Tidak seperti penumpang lainnya yang bukan dari kaum muslim. Bahkan mereka sering diintrogasi oleh pihak bandara, dan terkadang mereka dibawa oleh petugas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bahkan yang lebih parahnya lagi mereka tidak diizinkan untuk menaiki pesawat. Mereka diperlakukan seperti penjahat, mereka dianggap berbahaya untuk penumpang-penumpang lainnya. Dan masih banyak tindakan-tindakan diskriminasi lainnya terhadap kaum muslim.

Jika dikaitkan dengan teori, sudah terjadi “Stereotype” terhadap kaum muslim. Stereotipe adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat. Mereka menyeragamkan kaum muslim sebagai orang-orang yang anarkis, penjahat, dan bahkan sebagai teroris. Karena melihat dengan beberapa peristiwa peritiwa yang melibatkan kaum muslim, yang menguatkan penilaian seperti itu terhadap kaum muslim, walaupun sebenarnya tidak semuanya kaum muslim seperti itu.

Setiap kali mereka melihat kaum muslim pasti mereka langsung berpikiran tentang kelompok teroris. Bahkan juga sudah terjadi stereotipe terhadap atribut-atribut yang menjadi khas bagi kaum muslim seperti jenggot, kerudung, cadar, baju koko, dan tasbih. Bahkan nama-nama muslim pun sudah menjadi stereotipe. Jika mereka mendengar dan bertemu dengan orang yang namanya sangat jelas sebagai nama seorang muslim, mereka akan merasa cemas jika berada di sekitar orang tersebut.

kl

Itu hanya sebagian dari kaum muslim yang kebetulan bertindak seperti itu. Seharusnya mereka tidak mengklaimnya begitu saja. Seharusnya mereka memandang para pelaku sebagai pelaku terorisme saja, tanpa menghubungkan dengan keyakinan mereka. Dan mereka tidak boleh melakukan diskriminasi terhadap orang-orang muslim hanya karena mereka satu keyakinan dengan pelaku aksi-aksi terorisme, dan karena penilaian tentang kaum tersebut. Karena tidak semua dan belom tentu teroris itu berasal dari kaum muslim.

Jika dilihat-lihat dari tanggapan masyarakat terhadap kaum muslim, terlihat adanya “paranoid” pada masyarakat. Masyarakat menjadi trauma akan kejadian-kejadian yang melibatkan kaum-kaum muslim. Mereka merasa takut dan khawatir jika ada kaum muslim ditengah-tengah mereka. Mereka khawatir muslim tersebut akan melakukan aksi-aksi terorisme seperti yang sudah terjadi sebelumnya. Adanya kecemasan neurotik pada masyarakat akan kaum muslim. Apalagi bagi mereka yang menjadi keluarga atau kerabat dari korban, bahkan korban aksi aksi terorisme. Mereka khawatir jika berada disekitar kaum muslim. Padahal belum tentu kaum muslim tersebut akan melakukan sesuatu yang membahayakan dan tidak semua kaum muslim adalah teroris.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s