Psikoterapi (3.A)

Standard

Pendekatan Client-Centered

A. Konsep Utama

Padangan client-centered tentang sifat manusia menolak konsep tentang kecenderungan-kecenderungan negatif. Beberapa pendekatan beranggapan bahwa manusia menurut kodratnya adalah irasional dan berkecenderungan merusak terhadap dirinya sendiri maupun orang lain kecuali telah menjalani sosialisasi, Rogers menunujukan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia sebagai tersosialisasi dan bergerak ke dapan, berjuang untuk berfungsi penuh, serta memiliki kebaikan yang positif.

Berkat padangan filosofis bahwa individu memiliki kesanggupan yang inheren untuk menjauhi maladjustment  menuju keadaan psikologis yang sehat, terapis meletakan tanggung jawab utamanya bagi proses terapi klien. Model client-centered menolak konsep yang memandang terapis sebagai otoritas yang mengetahui yang terbaik dan memandang klien sebagai manusia pasif yang hanya mengikuti perintah terapis. Oleh karena itum terapi client-centered berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat keputusan-keputusan.

B. Unsur-Unsur Pendekatan Client-Centered

  1. Tujuan Terapi
    Tujuan dasar terapi client-centered adalah menciptakan suasana yang kondusif dalam upaya membantu klien untuk menjadi pribadi yang berfungsi penuh. Dalam mencapai tujuan tersebut, terapi perlu mengusahakan agar klien dapat memahami hal-hal yang ada dalam dirinya sendiri.

    • Keterbukaan kepada pengalaman
      Keterbukaan kepada pengalaman memerlukan pandangan nyata tanpa mengubah bentuk agar sesuai dengan struktur diri yang tersusun sebelumnya.
    • Kepercayaan terhadap organisme sendiri
      Membantu klien dalam membangun rasa percaya terhadap diri sendiri.
    • Tempat evaluasi internal
    • Kesediaan untuk menjadi suatu proses
  2. Fungsi dan Peran Terapis
    Fungsi terapis adalah untuk membangun suatu suasana terapeutik yang menunjang perkembangan klien. Terapis membangun hubungan yang membantu dimana klien akan mengalami kebebabasan yang diperlukan untuk mengeksplorasi area-area kehidupannya yang sekatang diingkari dan didistorsinya. Klien menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yangh ada dalam dirinya maupun di dunia.
    Yang paling utama, terapis harus bersedia menjadi nyata dalam berhubungan dengan klien. Terapis menghadapi klien berlandaskan pengalaman dari masa ke masa dan membantu klien dengan jalan memasuki dunianya menurut kategori-kategori diagnostik yang telah dipersiapkan. Melalui perhatian yang tulus, respek, penerimaan, dan pengertian terapis, klien bisa menghilangkan pertahanan-pertahanan dan persepsinya yang kaku serta bergerak menuju taraf fungsi pribadi yang lebih tinggi.

C. Teknik-Teknik Pendekatan Client-Centered

Dalam kerangka client-centered, teknik-tekniknya adalah pengungkapan dan pengomunikasian penerimaan, respek, dan pengertian, serta berbagai upaya dengan klien dalam mengembangkan kerangka acuan internal dengan memikirkan, merassakan, dan mengekspolitasi.

  1. Aceptance (penerimaan)
  2. Respect (rasa hormat)
  3. Understanding (mengerti, memahami)
  4. Reassurance (menentramkan hati, meyakini)
  5. Encouragement (dorongan)
  6. Limited Questioning (pertanyaan terbatas)
  7. Reflection (memantulkan pertanyaan dan perasaan)

Referensi :

Corey, G. (1999). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT. Refika Aditama.

Untuk materi selanjutnya klik disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s